Sabtu, 30 Mei 2009

BOEDIONO

     Adalah salah satu sosok penting di negeri ini. Sebagai seorang intelektual, aku memandangnya sebagai sosok yang rendah hati serta begitu perhatian terhadap permasalahan ekonomi negeri ini. Sifatnya yang tidak banyak bicara serta hasil dari pekerjaannya membuat aku kagum. Di mataku, dia adalah ayah impianku. Mungkin tidak banyak pemuda yang mengaguminya, apalagi di saat seperti ini. Banyak orang yang menghujat dia sebagai penganut neoliberalisme. Apa bedanya dengan aliran yang lain? Toh, keputusan-keputusan yang diambil beliau semata-mata hanya untuk menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan ekonomi.
     Boediono, selain namanya yang hampir mirip dengan namaku, Budiyanti, aku juga mengaguminya sebagai ekonom terhebat di negeri ini. Langkahnya seakan menginspirasiku untuk lebih bersemangat lagi dalam berkarya. Aku jadi ingin seperti beliau yang tidak banyak bicara tetapi lebih banyak menghasilkan sesuatu, daripada mereka-mereka yang lebih banyak bicara tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Malah banyak diantara mereka yang hanya bicara demi sebuah kekuasaan belaka.
Tetapi, dibalik kekagumanku pada Boediono, ada satu hal yang membuatku khawatir. Yaitu, cara bicaranya yang lirih. Di mata seseorang yang berpositif thingking mungkin cara bicara seperti itu dianggap sebagai cara bicara yang santun. Tetapi aku khawatir. Di dunia politik seperti yang aku lihat saat ini, semua orang penting dan politikus di negeri ini berbicara dengan lantang dan tegas. Semua yang sudah dilakukan dianggap sebagai hasil karya mereka sendiri tanpa melihat peran orang lain. 
     Boediono, berbeda. Dengan gaya bicara yang begitu santun, setiap kali disinggung soal keberhasilannya, beliau tidak pernah lupa mengatakan bahwa semua yang sudah dihasilkannya adalah hasil kerjasama secara teamwork. Beliau juga selalu membawa nama-nama yang sudah membantunya dalam menghasilkan sesuatu untuk negeri tercinta ini. Kekhawatiranku yang lain adalah, disaat seperti ini, saat semua mata memandangnya sebagai penganut neoliberalis, dengan gaya bicara beliau yang teramat sangat santun, aku khawatir, akan banyak orang yang menganggap gaya bicara seperti itu mencerminkan keraguan. Mereka yang tidak mengerti akan keseharian Boediono, bisa saja menganggap beliau selalu ragu dalam mengambil keputusan, padahal itu bukan ragu, tetapi hati-hati. Dalam perdebatan juga bisa saja Boediono mengalami kekalahan dalam pembicaraan tersebut karena lawan bicaranya berbicara lebih lantang dan lebih politis.
     Boediono memang bukan politikus seperti mereka. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah apa yang sudah dikerjakan dan sesuai dengan kenyataan. Bukan seperti mereka yang hanya berbicara tetapi tidak menyesuaikan dengan kenyataan yang ada saat ini. Boediono memang bukan anak baru lulus seperti mereka. Setiap tingkah lakunya adalah didasarkan pada ketepatan berpikir dan intelektualitas yang dimilikinya. Bukan seperti mereka yang bertingkah hanya karena kekuasaan dan materi semata.
     Boediono, kekagumanku padanya akan terus menginspirasiku di setiap langkah yang aku ambil. Seandainya setiap pemuda mengidolakan setiap sosok pandai di negeri ini, mungkin negara kita 5 tahun kedepan akan menjadi negara yang terpandang di muka bumi ini. Semoga..Wallahu’alam..

Tidak ada komentar: