Sebelumnya
saya, sebagai penulis artikel ini memohon maaf apabila dalam artikel ini
terdapat kalimat yang menyinggung suatu institusi atau pribadi seseorang. Artikel
ini saya buat hanya berdasarkan pengalaman yang saya alami di suatu RS
Pemerintah yang ada di kota kecil di Kalimantan Selatan.
Hari itu
adalah Senin pagi, saya dan anak saya hendak memeriksakan benjolan kecil-kecil
di kepala bagian belakang kepala anak saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.30
wita, saya sempat melihat dokter yang bertugas di ruangan Poliklinik Anak RSUD Banjarbaru
belum datang padahal jam buka pendaftaran dari jam 08.00 wita. Itu artinya
dokternya terlambat datang (atau sengaja terlambat). Lalu saya menunggu di luar
area RS. Setelah kurang lebih 30 menit, saya kembali lagi ke ruangan tersebut,
dan saya lihat ternyata dokternya sudah datang. Tidak lama setelahnya, anak saya dipanggil.
Inilah sesuatu
yang menyeramkan itu, sewaktu anak saya disuruh timbang badan, dengan pongahnya
sang suster membentak & melototi anak saya supaya naik ke timbangan. Mungkin
itu memang pembawaan karakter sang suster tersebut, tetapi seharusnya dia tidak
sekejam itu di hadapan anak-anak yang umurnya dibawah 5 tahun. Jelas saja anak
saya menangis kencang melihat sang suster dengan bentakannya itu. Apalagi anak
saya yang berumur 2 tahun dipaksa dengan digendong. Dimana-mana yang namanya
balita 2 tahun pasti takut sama orang yang tidak dikenalnya. Setelah ditimbang paksa tadi, kami disuruh
menunggu lagi. Ternyata tidak hanya anak saya yang menangis waktu disuruh
timbang, rata-rata balita yang disuruh timbang pasti menangis setelah melihat
suster tersebut.
Hal
menyeramkan yang kedua adalah, pada waktu kami dipanggil lagi untuk kedua
kalinya. Seorang dokter anak dengan inisial PR, menyuruh anak saya membuka
bajunya. Untuk kedua kalinya pula anak saya dipaksa membuka bajunya sampai
menangis kencang untuk kedua kalinya. Waktu itu anak saya mau diperiksa detak
jantungnya. Menurut pengalaman saya di Puskesmas Banja*ba*u, dokter yang baik
tidak akan mau periksa detak jantung balita bila balita tersebut menangis,
karena akibat menangis tersebut detak jantungnya tidak akan teratur. Entah dokter
PR di RSUD ini lupa atau memang gobl*k, masa anak nangis kenceng gitu mau diperiksa
detak jantungnya. Kalaupun sudah bisa diperiksa apakah hasilnya valid?
Akhirnya anak
saya tidak jadi diperiksa detak jantungnya, hanya dipegang-pegang saja bagian belakang
kepalanya, sambil mengatakan kalau besok-besok ayahnya disuruh ikut buat
bantuin pegangin anak. Ini lagi, hal yang menyebalkan buat saya. Memang sih, kesehatan
anak nomor satu buat orangtua, tapi orangtua kan juga punya kewajiban memenuhi
nafkah buat keluarga. Lagipula selama ini anak saya selalu pintar kalau dibawa
periksa ke Puskesmas, tidak pernah menangis seperti ini, karena di Puskesmas
dokter-dokternya ramah dan tidak sejahat dokter di RSUD tersebut.
Seharusnya
dokter RS tersebut introspeksi diri, kalau membantu orang dengan cara menyeramkan
seperti itu, apakah nantinya akan mendapatkan pahala? Atau hanya mendapatkan UANG
semata? Seharusnya Poliklinik Anak di RS tersebut diperbaiki SDM nya. Saya
merasa kasihan dengan balita yang lain, belum masuk ruangan itu saja sudah ada
yang menangis, karena takut sama suster dan dokternya. Bukannya saya ingin
mendoakan yang tidak baik, tetapi bila ada pasien yang tidak puas dengan
pelayanan di Poli Anak RSUD tersebut, bisa jadi orang-orang tersebut menyumpahi
pegawai dan dokter tersebut. Tapi mudah-mudahan dokter dan suster tersebut
diberi hidayah supaya bisa memperlakukan balita dengan lebih lembut.
Tidak bisa
dipungkiri kita semua memerlukan kesehatan dan jasa pelayanan kesehatan seperti
rumah sakit. Tapi apakah tidak sebaiknya pelayanan kesehatan untuk masyarakat
ini diperbaiki sistem SDM nya sehingga bisa se-ramah SDM di Bank-bank
Pemerintah maupun swasta. Tidak hanya di RSUD tersebut tapi juga RS Pemerintah
lain. Atau mungkin perlakuan seperti ini karena gaji yang kurang banyak buat
SDM kesehatan di RS? Kalau begini, mungkin solusinya hanya ada di DPR dan
Presiden, bagaimana cara mengatasinya.
Belum lagi
masalah parkir di RS yang terlalu mahal. Mungkin untuk kalangan menengah ke
atas tarif duaribu sekali parkir untu k sepeda motor tidak begitu memberatkan,
tetapi untuk kalangan bawah, bisa jadi itu jadi kendala tersendiri karena
mereka harus menanggung biaya RS dan parkir.
Akhirnya
semuanya saya kembalikan kepada pihak yang berwenang memperbaiki sistem seperti
ini, supaya masyarakat yang sakit tidak bertambah sakit dengan pelayanan yang
masih tidak karuan ini, terutama pada SDM nya. Akhir kata saya mohon maaf bila
ada kalimat yang menyinggung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar