Senin, 17 Juni 2013

POLIKLINIK ANAK DI RSUD BANJA*BA*U YANG MENYERAMKAN



Sebelumnya saya, sebagai penulis artikel ini memohon maaf apabila dalam artikel ini terdapat kalimat yang menyinggung suatu institusi atau pribadi seseorang. Artikel ini saya buat hanya berdasarkan pengalaman yang saya alami di suatu RS Pemerintah yang ada di kota kecil di Kalimantan Selatan.
Hari itu adalah Senin pagi, saya dan anak saya hendak memeriksakan benjolan kecil-kecil di kepala bagian belakang kepala anak saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 wita, saya sempat melihat dokter yang bertugas di ruangan Poliklinik Anak RSUD Banjarbaru belum datang padahal jam buka pendaftaran dari jam 08.00 wita. Itu artinya dokternya terlambat datang (atau sengaja terlambat). Lalu saya menunggu di luar area RS. Setelah kurang lebih 30 menit, saya kembali lagi ke ruangan tersebut, dan saya lihat ternyata dokternya sudah datang.  Tidak lama setelahnya, anak saya dipanggil.
Inilah sesuatu yang menyeramkan itu, sewaktu anak saya disuruh timbang badan, dengan pongahnya sang suster membentak & melototi anak saya supaya naik ke timbangan. Mungkin itu memang pembawaan karakter sang suster tersebut, tetapi seharusnya dia tidak sekejam itu di hadapan anak-anak yang umurnya dibawah 5 tahun. Jelas saja anak saya menangis kencang melihat sang suster dengan bentakannya itu. Apalagi anak saya yang berumur 2 tahun dipaksa dengan digendong. Dimana-mana yang namanya balita 2 tahun pasti takut sama orang yang tidak dikenalnya.  Setelah ditimbang paksa tadi, kami disuruh menunggu lagi. Ternyata tidak hanya anak saya yang menangis waktu disuruh timbang, rata-rata balita yang disuruh timbang pasti menangis setelah melihat suster tersebut.
Hal menyeramkan yang kedua adalah, pada waktu kami dipanggil lagi untuk kedua kalinya. Seorang dokter anak dengan inisial PR, menyuruh anak saya membuka bajunya. Untuk kedua kalinya pula anak saya dipaksa membuka bajunya sampai menangis kencang untuk kedua kalinya. Waktu itu anak saya mau diperiksa detak jantungnya. Menurut pengalaman saya di Puskesmas Banja*ba*u, dokter yang baik tidak akan mau periksa detak jantung balita bila balita tersebut menangis, karena akibat menangis tersebut detak jantungnya tidak akan teratur. Entah dokter PR di RSUD ini lupa atau memang gobl*k, masa anak nangis kenceng gitu mau diperiksa detak jantungnya. Kalaupun sudah bisa diperiksa apakah hasilnya valid?
Akhirnya anak saya tidak jadi diperiksa detak jantungnya, hanya dipegang-pegang saja bagian belakang kepalanya, sambil mengatakan kalau besok-besok ayahnya disuruh ikut buat bantuin pegangin anak. Ini lagi, hal yang menyebalkan buat saya. Memang sih, kesehatan anak nomor satu buat orangtua, tapi orangtua kan juga punya kewajiban memenuhi nafkah buat keluarga. Lagipula selama ini anak saya selalu pintar kalau dibawa periksa ke Puskesmas, tidak pernah menangis seperti ini, karena di Puskesmas dokter-dokternya ramah dan tidak sejahat dokter di RSUD tersebut.
Seharusnya dokter RS tersebut introspeksi diri, kalau membantu orang dengan cara menyeramkan seperti itu, apakah nantinya akan mendapatkan pahala? Atau hanya mendapatkan UANG semata? Seharusnya Poliklinik Anak di RS tersebut diperbaiki SDM nya. Saya merasa kasihan dengan balita yang lain, belum masuk ruangan itu saja sudah ada yang menangis, karena takut sama suster dan dokternya. Bukannya saya ingin mendoakan yang tidak baik, tetapi bila ada pasien yang tidak puas dengan pelayanan di Poli Anak RSUD tersebut, bisa jadi orang-orang tersebut menyumpahi pegawai dan dokter tersebut. Tapi mudah-mudahan dokter dan suster tersebut diberi hidayah supaya bisa memperlakukan balita dengan lebih lembut.
Tidak bisa dipungkiri kita semua memerlukan kesehatan dan jasa pelayanan kesehatan seperti rumah sakit. Tapi apakah tidak sebaiknya pelayanan kesehatan untuk masyarakat ini diperbaiki sistem SDM nya sehingga bisa se-ramah SDM di Bank-bank Pemerintah maupun swasta. Tidak hanya di RSUD tersebut tapi juga RS Pemerintah lain. Atau mungkin perlakuan seperti ini karena gaji yang kurang banyak buat SDM kesehatan di RS? Kalau begini, mungkin solusinya hanya ada di DPR dan Presiden, bagaimana cara mengatasinya.
Belum lagi masalah parkir di RS yang terlalu mahal. Mungkin untuk kalangan menengah ke atas tarif duaribu sekali parkir untu k sepeda motor tidak begitu memberatkan, tetapi untuk kalangan bawah, bisa jadi itu jadi kendala tersendiri karena mereka harus menanggung biaya RS dan parkir.
Akhirnya semuanya saya kembalikan kepada pihak yang berwenang memperbaiki sistem seperti ini, supaya masyarakat yang sakit tidak bertambah sakit dengan pelayanan yang masih tidak karuan ini, terutama pada SDM nya. Akhir kata saya mohon maaf bila ada kalimat yang menyinggung.

Pasien RSUD Banja*ba*u

Tidak ada komentar: